Kapan Saja Waktu yang Mustajab untuk Berdoa pada Hari Jum’at ?

0
4
views

Mediagaul.net/Pencerah – Dalam agama Islam, hari Jum’at adalah hari yang paling utama dalam sepekan. Allah Ta’ala mengkhususkan hari Jum’at ini hanya bagi kaum Muslimin dari seluruh kaum dari ummat-ummat terdahulu. Pada hari inilah Nabi Adam diciptakan, dimasukkan kedalam surga dan dikeluarkan dari surga serta kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jum’at.

Hari Jumat memiliki banyak keutamaan. Di antara keutamaannya adalah pada hari tersebut Allah ta’ala menyediakan satu waktu dimana tidak ada satu pun permohonan hamba kepada-Nya melainkan pasti Allah kabulkan. Yang menjadi pertanyaan, kapankah waktu tersebut ?

Di dalam menentukan waktu tersebut, terdapat banyak perbedaan pendapat di kalangan para ulama. 

Pertama, waktu mustajab itu ialah saat imam duduk di atas mimbar hingga shalat dilaksanakan.

Dalil dan alasan yang digunakan pendapat ini ialah hadits riwayat Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Abu Musa Al-Asy’ari R.A, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘(Waktu yang mustajab) itu ialah ketika imam duduk (di atas mimbar) hingga shalat dilaksanakan’.” (HR. Abu Dawud) Imam Nawawi mengatakan bahwa pendapat ini shahih.

Kedua, waktu mustajab itu ialah setelah Ashar.

Di dalam Al-Hadyun-Nabawi, Ibnul Qayyim mengatakan, “Inilah pendapat yang paling unggul di antara dua pendapat tersebut. Pendapat ini dianut oleh Abdullah bin Salam, Abu Hurairah, Imam Ahmad, dan banyak ulama lainnya.”

Ia juga berkata, “Pendapat ini juga dianut oleh jumhur (mayoritas) para shahabat dan para tabi’in.” Ibnu Qoyyim melanjutkan, di antara hadits yang menguatkan pendapat ini adalah:

Hadits riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari hadits Abu Hurairah dan Abu Said Al-Khudri bahwa Nabi bersabda:

إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ فِيْهَا خَيْراً إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَهِيَ بَعْدَ الْعَصْرِ

“Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat satu waktu, tidaklah seorang muslim memohon kebaikan kepada Allah pada waktu tersebut melainkan Allah akan mengabulkannya. Dan masa itu ialah setelah shalat Ashar.” (HR. Ahmad)

Hadits riwayat Imam Abu Dawud dan An-Nasa`i, dari hadits Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah bersabda:
يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً، فِيْهَا سَاعَةٌ لاَ يُوْجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ فِيْهَا شَيْئاً إِلاَّ أَعْطَاهُ، فَالْتَمِسُوْهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

“Hari Jumat ialah dua belas jam. Di dalamnya terdapat satu masa di mana tidaklah seorang muslim memohon sesuatu kepada Allah pada saat itu, melainkan Allah akan mengabulkannya. Maka carilah ia pada saat-saat terakhir setelah shalat Ashar.” (HR. Abu Dawud)

Imam Ahmad berkata, “Kebanyakan hadits-hadits yang berhubungan dengan saat dan waktu yang permohonan akan dikabulkan menyatakan, waktu yang dimaksud ialah setelah shalat Ashar. Waktu tersebut ialah setelah tergelincirnya matahari.”(Jâmi’ut-At-Tirmidzi: II/360)

Meskipun mayoritas ulama memilih pendapat yang kedua, namun jika ditelusuri lebih lanjut, sebenarnya kedua pendapat di atas memiliki dalil yang sama-sama kuat. Sehingga sebagian ulama ada yang mengambil jalan tengah, yaitu dengan menggabungkan kedua pendapat tersebut.

Salah saatunya adalah Imam Ibnul Qayyim, beliau menjelaskan,“Menurut hemat saya, waktu shalat juga merupakan waktu yang diharapkan terkabulkannya doa. Jadi, keduanya merupakan waktu mustajab, meskipun waktu yang dikhususkan di sini ialah waktu terakhir setelah shalat Ashar. Sehingga, ia merupakan waktu yang telah diketahui secara pasti dari hari Jumat; tidak maju dan tidak mundur”

Adapun waktu shalat, ia mengikuti shalat itu sendiri; maju atau mundurnya. Sebab, dengan berkumpulnya kaum muslimin, shalat, kekhusyukan, dan munajat mereka kepada Allah, hal itu memiliki dampak dan pengaruh yang sangat besar untuk dikabulkan. Karena, ketika kaum muslimin sedang berkumpul, sangat diharapkan sekali doa terkabulkan.

Dengan demikian, semua hadits yang disebutkan di atas sesuai dan saling berkaitan. Rasulullah menganjurkan umatnya untuk senantiasa memanjatkan doa dan bermunajat kepada Allah pada dua waktu dan masa ini.” (Zâdul-Ma’âd fî Hadyi Khairil ‘Ibâdi, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: I/388–394)

Ibnu Abdul Barr juga mengatakan, “Semestinya yang dilakukan seorang muslim ialah bersungguh-sungguh memanjatkan doa kepada Allah pada dua waktu yang telah disebutkan.” (Syarhuz-Zarqani ‘Alal-Muwattha`: I/226)

Sehingga bagi seorang hamba tidak layak baginya melewatkan kedua waktu tersebut kecuali ia akan bersungguh-sungguh untuk berdoa kepada Allah ta’ala. Karena pada saat itu Allah membuka rahmat-Nya kepada setiap hamba yang memohon kepadanya.

والله أعلمُ بالـصـواب

Source : Kiblat
Editor : Rajaf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here