Berobat dengan Semut Jepang, Halalkah ?

0
6
views
Mediagaul.net/Kesehatan – Ini menjadi pertanyaan beberapa orang karena memang ada kata “semut” di situ. Bagaimana hukum berobat dengan makan semut hidup? Apakah benar semut hidup yang di makan (telan dengan air)? Apakah hukumnya haram? Tentu hal ini menjadi perhatian seorang muslim karena Rasulullah shallallahu a’laihi wa sallam bersabda,
عباد الله تداووا ولا تتداووا بحرام
“Wahai Hamba Allah, berobatlah kalian, janganlah berobat dengan yang haram”   (HR. Abu Dawud)
Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, 
إن الله لم يجعل شفاءكم فيما حرم عليكم
“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan/obat pada apa yang Allah haramkan bagi kalian” ( HR. Bukhari secara muallaq)
Apa itu Semut Jepang ?
Kami tidak mengetahui dengan rinci bagaimana berobat dengan Semut Jepang karena bukan praktisinya (jika salah mohon kami dikoreksi). sebenarnya semut jepang bukanlah jenis semut, tetapi lebih ke arah “serangga /kutu” atau semacamnya. Hanya penamaannya saja dengan kata “semut”.
Semut Jepang merupakan anggota marga Tenobrio dan Tribolium (semacam kutu yang gemar menghuni biji-bijian seperti beras yang termasuk dalam ordo Coleoptra). Sedangkan Semut merupakan serangga anggota suku Formicidae, bangsa Hymenoptera.
Kalau semut, maka hukumnya haram di makan karena ada dalil tegas mengenai hal ini.
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,
نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن قتل أربع من الدواب النملة والنحلة والهدهد والصرد
“Sesungguhnya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam melarang dari membunuh empat jenis hewan; semut, lebah, burung hud-hud dan burung shurod.” (HR. Abu Daud, Al-Irwa’: 2490)
Hukum makan serangga/kutu
Terdapat beberapa mengenai hal ini. Pendapat yang kami pilih adalah HARAM makan serangga dan kutu, sehingga jika benar “semut Jepang” adalah termasuk serangga/kutu maka haram menjadikannya obat. Dan juga masih ada cara lain untuk berobat selain dengan semut Jepang.
Perlu diketahui bahwa binatang-binatang kecil (hasyaraat) ada dua macam:
1. Memiliki darah mengalir seperti tikus dan ular
2. Tidak memiliki darah mengalir seperti keong, kalajengking, cicak dan lain-lainnya (semut jepang termasuk yang ini)
Salah satu ulama Mazhab Syafi’i (mayoritas Indonesia) menghukumi haram makan serangga. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,
في مذاهب العلماء في حشرات الأرض كالحيات والعقارب والجعلان وبنات وردان والفأرة ونحوها :
مذهبنا أنها حرام
“Dalam Mazhab ulama syafi’i, mengenai binatang-binatang kecil (hasyaraat) bumi seperti ular, kalajengking, kumbang/serangga, tikus dan lain-lain, hukumnya adalah haram.”  (Al-Majmu’ 9/17-18)
Demikinan juga pendapat Jumhur ulama. Dalil yang mengharamkan:
1. Allah mengharamkan apa yang buruk/khabaits dan kutu/serangga termasuk yang dianggap seperti ini.
Allah Ta’ala berfirman,

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
“Dan Allah menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (Al A’raf:157)
الحشرات من الخبائث تستبعدها الطباع السليمة ،وغير مستطابة
“Binatang-binatang kecil (hasyaraat) termasuk dari khabaits yang dianggap jelek oleh tabiat manusia dan dianggap suatu yang tidak baik (jika dimakan).” (Tafsirul Manar 8/145)
2. Serangga/kutu tidak mempunyai cara untuk disembelih agar menjadi halal atau cara untuk membuatnya halal
Ibnu Hazm rahimahullah berkata,
لا يحل أكل الحلزون البري، ‏ولاشيء من الحشرات كلها كالوزغ، والخنافس، والنمل، والنحل، والذباب، والدبر، ‏والدود كله -طيارة وغير طيارة- والقمل، والبراغيث، والبق، والبعوض وكل ما كان من ‏أنواعها لقول الله تعالى: ( حرمت عليكم الميتة ) وقوله تعالى: ( إلا ما ذكيتم) وقد صح ‏البرهان على أن الذكاة في المقدور عليه لا تكون إلا في الحلق أو الصدر، فما لم يقدر فيه ‏على ذكاة فلا سبيل إلى أكله فهو حرام لامتناع أكله، إلا ميتة غير مذكى
“Tidak halal memakan siput darat, juga tidak halal memakan seseuatupun dari jenis serangga, seperti: cicak (masuk juga tokek), kumbang, semut, lebah, lalat, cacing, kutu, nyamuk, dan yang sejenis dengan mereka. Berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Diharamkan untuk kalian bangkai”, dan firman Allah -Ta’ala-, “Kecuali yang kalian sembelih”. Dan telah jelas dalil yang menunjukkan bahwa penyembelihan pada hewan yang bisa dikuasai/dijinakkan, tidaklah teranggap secara syar’i kecuali jika dilakukan pada tenggorokan atau dadanya. Maka semua hewan yang tidak ada cara untuk bisa menyembelihnya, maka tidak ada cara/jalan untuk memakannya, sehingga hukumnya adalah haram karena tidak bisa dimakan, kecuali bangkai yang tidak disembelih (misalnya ikan dan belalang yang halal bangkainya)” (Lihat Al-Muhalla: 7/405)
(Muslimafiyah)
والله أعلمُ بالـصـواب

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here